PENDIDIKAN KARAKTER MELALUI PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA DENGAN MATERI MEMBACA NOVEL SASTRA
YOHANA GRICE FUN
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS POHUWATO
EMAIL: yoannagracefungrace@gmail.com
Abstrak
Penelitian pengembangan ini bertujuan untuk (1) mengembangkan bahan ajar bahasa Indonesia dengan materi membaca novel sastra untuk pendidikan karakter yang valid, praktis, dan efektif melalui uji coba di lapangan. (2) mendeskripsikan nilai karakter yang terdapat dalam bahan ajar tersebut dan keberhasilan implementasinya dalam pembelajaran di sekolah, Penelitian ini dilakukan melalui empat tahap, mengikuti model Plomp (1997), yaitu:(1) pengkajian awal, (2) perancangan, (3) realisasi (konstruksi), dan (4) validasi/revisi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) bahan ajar yang dikembangkan bersifat valid, praktis, dan efektif untuk diterapkan di lapangan; (2) Terdapat nilai karakter religius, kejujuran, dan kedisiplinan dalam bahan ajar yang dikembangkan, yang implementasinya dapat dipantau melalui 6 indikator dari 11 rumusan indikator dalam Character Education Patnership (2003). Pada akhirnya, hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan terhadap program pendidikan karakter di sekolah, khususnya dalam memberikan alternaif bahan ajar bahasa Indonesia yang praktis, efektif, dan diminati siswa.
Kata Kunci: bahan ajar membaca, novel sastra, pendidikan karakter
PENDAHULUAN
Salah satu amanat Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 adalah agar pemerintah menyelenggarakan pendidikan nasional yang dapat mencerdaskan kehidupan bangsa dan terbentuknya akhlak mulia serta adanya peningkatan iman dan takwa manusia Indonesia kepada Tuhan Yang Maha Esa. Implikasinya adalah etercapainya kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual pada masyarakat Indonesia. Tercapainya kecerdasan tersebut dapat diterjemahkan secara operasional melalui proses pendidikan dan pembelajaran yang memadai untuk mengembangkan kepribadian manusia Indonesia yang seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertakwa serta berakhlak mulia.
Dilihat dari sisi pembelajaran, bahwa membaca adalah kegiatan pembelajaran yang harus secara aktif melibatkan peserta didik pada kegiatan menyerap informasi dari teks yang dibaca. Pada prinsipnya, setiap proses pembelajaran itu bertujuan untuk menggali potensi yang ada dalam peserta didik, membantu menemukan dan memecahkan masalahnya, serta membantu untuk dapat berpikir positif dalam memecahkan masalah tersebut. Untuk itu, dalam proses pembelajaran diperlukan kegiatan yang menantang dan memberi nilai serta makna bagi kehidupan (Bellanca, 2011). Hal itu sejalan dengan program pendidikan karakter sebagaimana yang disampaikan oleh Kementerian Pendidikan Nasional (2010). Dalam panduan pendidikan karakter dan budaya bangsa, yang diterbitkan Kementerian Pendidikan Nasional terdapat delapan belas pilar nilai- nilai karakter yang perlu ditanamkan kepada peserta didik. Nilai-nilai karakter yang dirumuskan dalam delapan belas pilar itu tidak dibelajarkan secara terpisah dari semua mata pelajaran, tetapi secara terpadu melalui berbagai mata pelajaran.
Wacana pelaksanaan pendidikan karakter melalui berbagai mata pelajaran itu, telah segera ditindaklanjuti dengan langkah konkret, dari semua pihak yang terkait langsung dengan dunia pendidikan. Hal itu terbukti dari dikeluarkannya buku panduan pendidikan karakter di sekolah oleh Kemdiknas (2010) yang di dalamnya selain mengandung unsur nilai-nilai pendidikan sebanyak delapan belas butir, juga terdapat petunjuk teknis pengimplementasiannya dalam berbagai mata pelajaran, termasuk bahasa Indonesia.
Dalam standar isi yang dikembangkan oleh BSNP (Permendiknas No. 22 Th. 2006), terdapat standar kompetensi mata pelajaran Bahasa Indonesia yang merupakan kualifikasi kemampuan minimal peserta didik dalam penguasaan pengetahuan, keterampilan, dan sikap positif terhadap bahasa dan sastra Indonesia. Standar ini merupakan dasar bagi peserta didik untuk memahami dan merespons situasi lokal, regional, nasional, dan global. Standar kompetensi dalam mata
pelajaran Bahasa Indonesia, adalah sebagai berikut. (1) Peserta didik dapat mengembangkan potensinya sesuai dengan kemampuan, kebutuhan, dan minatnya, serta dapat menumbuhkan penghargaan terhadap hasil karya kesastraan dan hasil intelektual bangsa sendiri. (2) Pendidik dapat memusatkan perhatian kepada pengembangan kompetensi bahasa peserta didik dengan menyediakan berbagai kegiatan berbahasa, bersastra, dan sumber belajar. (3) Pendidik lebih mandiri dan leluasa dalam menentukan bahan ajar kebahasaan dan kesastraan sesuai kondisi lingkungan sekolah dan kemampuan peserta didik. Dari standar tersebut, terbuka kesempatan bagi mata pelajaran Bahasa Indonesia untuk mensukseskan program pendidikan karakter tersebut.
Sementara itu, kondisi faktual di lapangan dewasa ini menunjukkan adanya peningkatan pada perilaku yang kurang terpuji. Sesungguhnya hal itu merupakan cerminan dari kehidupan masyarakat yang tidak berkarakter kuat, dan bukan penciri bagi bangsa yang maju dan beradap. Fenomena-fenomena empiris itu perlu disadari benar oleh para guru pada umumnya, termasuk para guru mata pelajaran Bahasa Indonesia. Wujud dari kesadaran itu adalah dikembangkannya berbagai strategi untuk meningkatkan kualitas pendidikan karakter melalui pembelajaran bahasa Indonesia (Suryaman, 2010). Salah satu di antaranya adalah pembelajaran membaca dengan materi novel sastra yang di dalamnya mengandung nilai- nilai karakter. Nilai-nilai karakter tersebut, merupakan bagian dari pilar karakter yang ditetapkan oleh kementerian pendidikan, sehingga penting untuk ditanamkan kepada seluruh peserta didik. Oleh karena itu, pada artikel ini akan dipaparkan masalah tersebut. Dalam UU RI No.14 Tahun 2005.
PEMBAHASAN
Dijelaskan bahwa kedudukan guru sebagai tenaga profesional bertugas untuk melaksanakan sistem pendidikan nasional dan mewujudkan tujuan bagi berkembangnya potensi peserta didik menjadi manusia beriman, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, serta menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab. Dengan memperhatikan UU tersebut, maka tugas guru untuk menyelenggarakan pendidikan karakter pada semua mata pelajaran adalah sebuah keharusan. Masalahnya, masih banyak guru yang belum profesional dalam menjalankan tugasnya. Setidaknya, hal ini pernah ditemukan dalam penelitian dari Direktorat Tenaga Kependidikan Depdiknas, bahwa 61,96% guru tidak menguasai materi yang diajarkan. Selain itu, dari berbagai penelitian yang terdahulu juga diketahui bahwa penyebab utama kegagalan pembelajaran pada umumnya adalah karena gurunya tidak berkompeten, siswanya kurang berminat, dan fasilitas pembelajarannya sangat terbatas (Nugrahani, 2014). sebelumnya, tentang ”Model Inovatif pembelajaran sastra dengan memanfaatkan film sebagai media yang berkontribusi terhadap pendidikan karakter” (Nugrahani, 2016), diketahui bahwa pendidikan karakter sangat penting dilakukan melalui semua mata pelajaran, dengan bahan ajar yang diminati siswa. Di sisi lain, perlu disadari bahwa fakta di lapangan menunjukkan rendahnya karakter generasi muda pada khususnya dan bangsa Indonesia pada umumnya. Oleh sebab itu, maka dipandang perlu untuk dilakukan upaya perbaikan pelaksanaan pendidikan karakter melalui mata pelajaran di sekolah, utamanya untuk membentuk karakter generasi muda penerus bangsa. Mengingat pendidikan karakter di sekolah belum berjalan efektif. Hal itu tampak dari banyaknya pelanggaran tata krama kehidupan, seperti: tawuran, kebut- kebutan, minum-minuman keras, menyontek, membolos, dan tindakan kurang terpuji lainnya. Dalam konteks ini, mata pelajaran Bahasa Indonesia memiliki peluang yang besar dan sangat strategis untuk melaksanakan pendidikan karakter tersebut. Sesuai dengan Renstra dan Roadmap Riset Unggulan Bidang Ilmu Kependidikan tahun 2014-2018 yang ditetapkan Universitas Veteran Bangun Nusantara Sukoharjo, dengan tema payung unggulan pertama yaitu pendidikan karakter bangsa, butir 6, tentang pengembangan perangkat implementasi pendidikan karakter bangsa (LPPM Univet, 2014), maka melalui penelitian ini dikembangkan bahan ajar Bahasa Indonesia yang berkontribusi terhadap pendidikan karakter untuk mendukung upaya universitas dalam menyukseskan programnya. Selain itu, melalui penerapan bahan ajar yang dikembangkan ini diharapkan terjadi peningkatan mutu pembelajaran Bahasa Indonesia di sekolah sekaligus terbentuknya karakter yang baik pada peserta didik.
Pada kesempatan sebelumnya, penulis pernah didanai oleh DRPM Ditjen Penguatan Risbang, untuk melakukan penelitian dengan judul “Pengembangan Model Inovatif Pembelajaran Sastra melalui Pemanfaatan Film sebagai Media yang Berkontribusi terhadap Pendidikan Karakter di SMA Kabupaten Sukoharjo” (Nugrahani, 2016). Penelitian yang relevan itu menemukan bahwa pembelajaran sastra dengan media film, dapat digunakan sebagai sarana pendidikan karakter yang efektif di sekolah. Berdasarkan penelitian itulah, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian lebih lanjut yang lebih terfokus pada pendidikan karakter. Mengingat kondisi karakter generasi muda Indonesia saat ini sangat memprihatinkan dan perlu penanganan dengan lebih intensif. Penelitian relevan lainnya berjudul “Pendidikan Karakter Berbasis Brain Based Education” (Hasan, 2016). Dalam penelitian tersebut ditemukan bahwa metode Brain Based Education ini penting, karena
pengembangan sumber daya manusia merupakan titik sentral bagi terbentuknya karakter sumber daya manusia. Untuk itu, direkomendasikan agar pemerintah memberi perhatian khusus pada masalah pembentukan karakter bangsa.
Sementara itu, kondisi di lapangan menunjukkan bahwa pendidikan karakter belum berjalan efektif, terbukti dari lemahnya kepribadian peserta didik, semangatnya untuk belajar, berdisiplin, beretika, dan bekerja keras sehingga tidak siap dalam menghadapi kehidupan, dan mudah terpengaruh oleh budaya negatif. Oleh karena itu, dengan memperhatikan rekomendasi dari penelitian yang relevan sebelumnya, bahwa pendidikan karakter sangat penting diperhatikan, dan perlu dilaksanakan di sekolah serta diperkuat oleh kondisi faktual di lapangan dewasa ini, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian ini, yaitu pendidikan karakter melalui pembelajaran bahasa Indonesia dengan materi membaca novel. Membaca termasuk satu di antara catur tunggal keterampilan berbahasa lainnya, yaitu berbicara, membaca dan menulis. Membaca adalah keterampilan berbahasa yang mengacu pada kemampuan dalam menyerap informasi. Pembelajaran membaca dapat diintegrasikan dengan sastra, karena dengan membaca karya sastra dapat dipelajari berbagai nilai karakter melalui cara berpikir para tokohnya.
pemahaman tentang nilai, penanaman melalui pembiasaan, dan pengulangan, serta pembudayaan agar tercermin dalam sikap dan perilaku sehari-hari. Pendidikan karakter melalui Bahasa Indonesia, sebagaimana halnya mata pelajaran lain, perlu adanya penentuan prioritas pada nilai- nilai karakternya. Hal itu dimaksudkan agar guru terfokus pada sejumlah nilai sehingga lebih mudah pemantauan, pengawasan, dan penilaiannya (Nurgiantoro, 2013). Adapun nilai karakter yang diprioritaskan di sekolah pada umumnya adalah nilai religius, kejujuran, disiplin, kebangsaan, dan kepedulian. Daftar nilai tersebut diambil dari Kemendiknas (2010).
Banyak pengertian tentang karakter yang dikemukakan para tokoh pendidikan, namun dalam dokumen resmi Kemendiknas, (2010) pengertian karakter adalah watak, tabiat, akhlak, atau kepribadian seseorang yang terbentuk dari hasil internalisasi berbagai kebajikan (virtues) yang diyakini dan digunakan sebagai landasan untuk cara pandang, berpikir, bersikap, dan bertindak. Selanjutnya dirumuskan 18 nilai karakter sebagai panduan dalam pendidikan karakter di sekolah, meliputi: (1) religius;
(2) jujur, (3) toleransi, (4) disiplin, (5) kerja keras, (6) kreatif, (7) mandiri, (8) demokratif, (9) rasa ingin tahu, (10) semangat kebangsaan, (11) cinta tanah air,
(12) menghargai prestasi, (13) bersahabat/komunikatif, (14) cinta damai,
(15) gemar membaca, (16) peduli
lingkungan, (17) peduli sosial, dan (18) tanggung jawab. Nilai tersebut disarankan untuk disampaikan melalui semua mata pelajaran agar hasilnya lebih maksimal, mengingat pendidikan karakter tidak mungkin dilaksanakan secara parsial dan memerlukan keterlibatan semua komponen.
Merujuk pada rumusan Character Education Partnership (2003), bahwa keefektifan pendidikan karakter ini perlu diukur keberhasilannya. Adapun indikator yang dapat digunakan untuk mengukur adalah sebagai berikut. (1) Pendidikan karakter yang dilaksanakan mampu mempromosikan nilai-nilai etis sebagai dasar karakter; (2) Mengartikan karakter secara utuh, termasuk pemikiran, perasaan dan perilaku; (3) Pendidikan karakter yang dilaksanakan menggunakan pendekatan komprehensif dan proaktif; (4) Pendidikan karakter yang dilaksanakan menanamkan rasa kepedulian terhadap masyarakat sekolah; (5) Pendidikan karakter yang dilaksanakan memberikan peluang kepada siswa untuk melakukan tindakan moral; (6) Pendidikan karakter yang dilaksanakan didukung oleh kurikulum akademik yang mendorong pengembangan kepribadian siswa; (7) Pendidikan karakter yang dilaksanakan mendorong pengembangan motivasi siswa; (8) Pendidikan karakter yang dilaksanakan melibatkan semua pihak untuk memandu perkembangan kepribadian siswa; (9) Pendidikan karakter yang dilaksanakan memberikan dukungan kepada siswa dalam menemukan karakternya; (10) Pendidikan karakter yang dilaksanakan melibatkan keluarga dan masyarakat dalam upaya pembentukan karakter siswa; dan (11) Pendidikan karakter yang dilaksanakan memberikan kesempatan kepada siswa untuk menampilkan karakter yang baik. Melalui berbagai indikator itulah perkembangan siswa untuk menemukan karakternya yang baik selama proses pendidikan di sekolah dapat dipantau (Samsuri dan Marzuki, 2016).
Dengan memperhatikan berbagai kendala dalam pendidikan karakter di sekolah, yang umumnya berkaitan dengan kesulitan guru dalam merancang bahan ajar yang memuat karakter, memanfaatkan media untuk membantu sefektivitas pembelajaran, dan mengukur ketercapaian karakter dalam pembelajaran, maka peneliti melakukan penelitian tentang pendidikan karakter ini dengan tujuan untuk menjawab masalah berikut. (1) Bagaimana validitas, efektivitas, dan kepraktisan bahan ajar untuk pendidikan karakter yang dikembangkan dalam penelitian ini? (2) Bagaimana pendidikan karakter yang dilaksanakan melalui penerapan bahan ajar yang dikembangkan? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, berikut ini diuraikan hasil dan temuan penelitianya. Hasil penelitian ini diharapkan mampu memberikan informasi ilmiah baru dan bermakna penting bagi program pendidikan karakter dan semua pihak yang peduli
terhadapnya serta memberikan inspirasi kepada para guru untuk lebih kreatif dalam mengembangkan bahan ajar yang diminati oleh para peserta didiknya.
METODE PENELITIAN
Secara umum penelitian ini bertujuan untuk menemukan model inovatif pendidikan karakter melalui pembelajaran membaca dengan materi. Secara khusus tujuan penelitian ini sebagai berikut. (1) Mengembangkan bahan ajar membaca yang valid, praktis, dan efektif dan mendukung terbentuknya karakter pada peserta didik.
(2) Mendeskripsikan nilai-nilai karakter yang terdapat dalam bahan ajar tersebut, dan implementasinya di sekolah.
Penelitian ini termasuk jenis penelitian pengembangan. Objek yang dikembangkan adalah perangkat pembelajaran bahasa Indonesia dalam pendidikan karakter. Fokusnya adalah bahan ajar bahasa Indonesia dengan materi membaca novel sastra untuk pendidikan karakter. Model penelitiannya mengikuti Plomp (1997), dengan empat tahapan, yaitu pengkajian awal, perancangan, realisasi/konstruksi dan tes, evaluasi, serta revisi. Tes, evaluasi, dan revisi dilakukan sampai diperoleh prototipe yang memenuhi persyaratan valid, praktis dan efektif. Selanjutnya, prototipe yang telah dikembangkan diujicobakan di sekolah. Keseluruhan tahapan mulai dari pengembangan model sampai mendapatkan prototipe model yang bersifat final meliputi empat tahap tersebut. Prototipe yang diperoleh, masing-masing diberi nama prototipe 1, 2, 3, dan selanjutnya yang merupakan kesinambungan. Prototipe yang lebih kemudian merupakan perbaikan dari sebelumnya, hingga diperoleh prototipe final, yaitu model pembelajaran membaca untuk pendidikan karakter yang bersifat valid, praktis, dan efektif.
Untuk melakukan validasi model, diupayakan untuk mengumpulkan data tentang penilaian para pakar dan praktisi di lapangan terhadap bahan ajar yang dikembangkan. Demikian pula untuk menguji kepraktisan model. Kepraktisan model juga dilihat dari hasil belajar siswa dan capaian karakternya setelah proses pembelajaran. Selanjutnya, untuk menguji keefektifan model, dilakukan observasi terhadap aktifitas siswa dan guru selama proses pembelajaran berlangsung. Observasi dilakukan terhadap respon siswa dalam pembelajaran, dan karakter yang terbentuk melalui pembelajaran. Masing-masing data yang terkumpul untuk uji kevalidan, kefektifan, dan kepraktisan selanjutnya dianalis menggunakan rumus statistik dengan mengkonsultasikan nilai rata2 dengan kategori yang ditetapkan. Dinyatakan valid jika nilai rata-rata validator pakar dan praktisi (V) mencapai kriteria 5 < V < 4,5. Selanjutnya dinyatakan praktis jika memenuhi uji kelayakan dan keterlaksanaan, yaitu jika rata-rata skor validator (L) mencapai kriteria 3,5 < L < 4,5. Adapun kriteria keterlaksanaannya adalah jika rata- rata skor observer (T) memenuhi kriteria, 3,5
< T < 4,5. Sementara itu, untuk menguji keefektifan model, dilakukan penilaian terhadap aktifitas siswa dalam mengikuti pembelajaran, dengan mencari frequensi rata-rata dari hasil pengamatan observer (K). Dinyatakan efektif jika rata-rata skor observer (K) mencapai 3,5 < K < 4,5. Selain itu juga dilihat dari rata-rata skor respon siswa terhadap pembelajaran. Jika 80 % dari jumlah siswa merespon positif, maka model dikatakan efektif.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Sejalan dengan tujuan penelitianmya, maka hasil penelitian ini dikelompokkan menjadi dua bagian, meliputi: (1) hasil uji coba bahan ajar dengan materi membaca novel sastra; (2) Nilai-nilai karakter yang terdapat dalam bahan ajar dan implementasinya di sekolah.
Bahan ajar Bahasa Indonesia dengan materi membaca novel yang dikembangkan dalam penelitian ini disusun dalam sebuah modul dengan format buku siswa sebagaimana yang ditetapkan dalam Kurikulum 2013.
Selain format, dan kesesuaiannya dengan kurikulum, bahasa yang digunakan dalam buku juga menjadi indikator penentu apakah buku itu bagus, atau tidak. Sebagaimana disampaikan oleh Fadillah, Syarifah dan Jamilah (2016:110), bahwa dalam mengembangkan bahan ajar, bahasa merupakan faktor yang penting untuk diperhatikan. Pemilihan ragam bahasa dan kata (diksi) itu, menentukan kualitas bahan ajar yang dikembangkan. Berikut ini disajikan hasil validasi bahan ajar yang disusun berdasarkan aspek tersebut, melalui penilaian para pakar pendidikan dan praktisi yaitu guru mata pelajaran Bahasa Indonesia. Dengan memperhatikan bahwa novel sastra adalah bagian dari karya seni yang dapat berperan dalam penanaman nilai-nilai luhur pada siswa, maka dalam penelitian ini dikembangkan bahan ajar membaca dengan materi novel sastra. Melalui bahan ajar membaca novel yang sudah teruji di lapangan, diharapkan pembelajaran dapat berjalan efektif, dan menarik minat siswa.
Novel yang berjudul Negeri Lima Menara, banyak mengandung nilai-nilai karakter, Namun demikian nilai karakter yang menonjol adalah nilai religius, kejujuran, dan kedislipinan. Melalui proses pembelajaran Bahasa Indonesia, dengan materi membaca novel di kelas, nilai-nilai karakter tersebut dapat ditanamkan kepada peserta didik. Untuk mengukur keberhasilannya sebagai bagian dari proses pendidikan karakter di sekolah, maka dapat dilakukan melalui penilaian dengan enam indikator, dari sebelas indicator sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya. Tabel berikut ini menyajikan uraian indikator keberhasilan pendidikan karakter dengan mengimplementasikan bahan ajar yang dikembangkan.
KESIMPULAN DAN SARAN
Pengembangan sumber daya manusia merupakan titik sentral bagi perkembangan suatu bangsa. Sementara itu, bangsa yang besar adalah bangsa yang memiliki karakter kuat sebagai pembeda dengan bangsa yang lain dalam percaturan dunia. Mengingat hal itu, maka pembentukan karakter generasi muda sebagai sumber daya manusia Indonesia sangat penting untuk diperhatikan. Untuk itu, direkomendasikan agar pemerintah memberi perhatian khusus pada masalah pembentukan karakter bangsa ini, utamanya untuk peserta didik di bangku sekolah. Sesuai panduan pendidikan karakter dan budaya bangsa yang diterbitkan Kementerian Pendidikan Nasional, dan sesuai pula dengan standar kompetensi dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia, maka sesungguhnya terbuka luas kesempatan bagi mata pelajaran ini untuk mensukseskan program pendidikan karakter di sekolah. Hal itu perlu diperhatikan, mengingat nilai-nilai karakter yang dirumuskan dalam delapan belas pilar itu tidak untuk dibelajarkan secara terpisah dari semua mata pelajaran, tetapi terpadu dalam mata pelajaran di sekolah. Hal penting yang perlu diperhatikan adalah bagaimana dapat menanamkan karakter kepada peserta didik melalui pembelajaran yang menarik dan menyenangkan. Untuk keperluan itu, guru perlu menyiapkan bahan ajar dengan lebih kreatif. Khususnya untuk pelajaran Bahasa Indonesia, bahan ajar yang dikembangkan melalui penelitian ini dapat digunakan di kelas, karena sudah teruji di lapangan dan indikator yang telah ditetapkan, sebagaimana yang telah diuraikan di sebelumnya.
DAFTAR PUSTAKA
Bellanca, James. (2011). Strategi dan Proyek Pembelajaran Aktif untuk Melibatkan Kecerdasan Siswa (Edisi Terjemahan). Jakarta: Indeks.
Fadillah, Syarifah dan Jamilah (2016). “Pengembangan Bahan Ajar Struktur Aljabar untuk Meningkatkan Kemampuan Pembuktian Matematis Mahasiswa”. Cakrawala Pendidikan, Jurnal Ilmiah Pendidikan XXXV (1) hlm. 106-113.
Hasan, Agus R.A. (2016). “Pendidikan Karakter Berbasis Brain Based Education” Jurnal Pedagogik, vol. 3, issue 2 hlm. 1-10.
Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat. (2014). Rencana Induk Penelitian (RIP) Universitas Veteran Bangun Nusantara Tahun 2014 -2018. Sukoharjo: LPPM Univet.
Nugrahani, Farida. (2014). “Laskar Pelangi Novel By Andrea Hirata as Acreative Industry and Educative Media (A Review of Sociologi Literature)”. Proseding Seminar Antarbangsa Kesusastraan Asia Tenggara (SAKAT). Brunai Darussalam: Dewan Bahasa dan Pustaka Berakas.
Nurgiyantoro, Burhan dan Efendi, Anwar. (2013). “Prioritas Penentuan Nilai Pendidikan Karakter dalam Pembelajaran Sastra Remaja”. Jurnal Cakrawala Pendidikan, November 2013, Th.XXXII, No.3. hlm. 381-405.
Plomp, Tjeerd (1997). Educational and Training System Design. Enschede, The Netherlands: Univercity of Twente.
Samsuri dan Marzuki. (2016). “Pembentukan Karakter Kewargaan Multikultural dalam Program Kulikuler di Madrasah Aliyah se- Daerah Istimewa Yogyakarta” dalam Jurnal Cakrawala Pendidikan Februari 2016, Th XXXV, No.1 hlm. 24-32.
Suryaman, Maman. (2010). “Pendidikan Karakter melalui Pembelajaran Sastra”. Cakrawala Pendidikan, Jurnal Ilmiah Pendidikan XXIX (Edisi Khusus Dies Natalis UNY) hlm. 112-126.