KEBERADAAN PENGGUNAAN BAHASA INDONESIA PADA GENERASI MILENIAL
ALYA RAHMA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS POHUWATO
EMAIL: alyaazeeq@gmail.com
Abstrak
Artikel ini didasarkan pada penelitian tindakan kelas yang bertujuan untuk memperoleh keterampilan siswa dalam menulis karya ilmiah melalui peningkatan di kelas Bahasa Indonesia di Universitas Negeri Yogyakarta. Subyek penelitian adalah mahasiswa Program Studi Manajemen, Pendidikan Matematika, Pendidikan Bahasa Jawa, dan Pendidikan Seni Musik yang masing-masing berjumlah lima puluh satu, tiga puluh sembilan, empat puluh sembilan, dan tiga puluh delapan. Analisis data yang dikumpulkan melalui observasi, tes, dan tugas menulis bersifat deskriptif kuantitatif dan kualitatif. Kriteria ketuntasan tindakan didasarkan pada tingkat keterampilan menulis karya ilmiah yang ditunjukkan dengan skor yang diperoleh. Hasil penelitian tindakan kelas dapat dikemukakan secara singkat sebagai berikut. Pertama, keterampilan mahasiswa dalam menulis karya ilmiah berkategori baik sehingga model pembelajaran yang digunakan dalam penelitian tindakan kelas terdiri dari diskusi, penugasan berupa praktek menulis, dan ceramah yang berkaitan dengan teori menulis lengkap dengan materi tertulis dalam berbagai bentuk. dianggap baik atau pantas. Kedua, eksplorasi kebutuhan siswa dan diskusi untuk mencapai kesepakatan tentang materi pembelajaran, model, dan evaluasi telah meningkatkan kesadaran mereka tentang hal-hal penting dan tanggung jawab mereka di kelas.
Kata Kunci: peningkatan, keterampilan, karya ilmiah
PENDAHULUAN
Perkuliahan Bahasa Indonesia sudah semestinya merupakan salah satu perkuliahan yang sangat diperlukan oleh mahasiswa, lebih-lebih mahasiswa jurusan nonbahasa Indonesia. Melalui perkuliahan Bahasa Indonesia mahasiswa dapat berlatih dan mengembangkan kemampuannya untuk berkomunikasi dengan orang lain baik secara lisan maupun tulisan. Sebagai calon ilmuwan, sudah semestinya mahasiswa dapat memanfaatkan perkuliahan Bahasa Indonesia ini sebagai sarana menyampaikan ideide ilmiah dengan benar kepada orang lain.
Di sisi lain, kenyataan menunjukkan bahwa kemampuan berbahasa Indonesia mahasiswa, khususnya dalam hal menulis karya ilmiah, masih memprihatinkan. Hal itu tampak pada masih banyaknya kesalahan berbahasa yang terdapat pada makalah, laporan, dan skripsi yang dibuat mahasiswa. Kondisi yang demikian itu di ungkapkan oleh Pranowo (2005: 1-34) sehingga ia sampai pada kesimpulan bahwa kebutuhan materi perkuliahan bahasa Indonesia untuk jurusan nonbahasa Indonesia perlu difokuskan pada penulisan karya ilmiah yang diharapkan dapat menunjang tugas mahasiswa dalam membuat makalah dan skripsi. Bahkan, ia mengidentifikasi materi sampai pada masalah mekanik, yaitu yang terkait dengan pemakaian ejaan.
Walaupun perkuliahan Bahasa Indonesia disadari pentingnya oleh berbagai kalangan, kenyataannya saat ini mata kuliah Bahasa Indonesia merupakan mata kuliah yang tidak disenangi oleh mahasiswa. Hal ini tampak pada tidak adanya motivasi dan perhatian mahasiswa yang memadai terhadap perkuliahan tersebut. Mahasiswa beranggapan bahwa mata kuliah ini hanya sebagai pelengkap dan yang paling penting adalah mata-mata kuliah utama di program studinya. Mereka beranggapan sudah bisa berbahasa Indonesia karena memang mata kuliah ini sudah dipelajari sejak kelas I Sekolah Dasar. Tentu saja anggapan semacam itu tidak tepat benar, mengingat pemahaman mereka tentang bisa berbahasa Indonesia sebenarnya bahasa Indonesia yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari, bukan bahasa ilmiah yang seharusnya mereka pelajari. Bahasa ilmiah merupakan register bahasa yang bersifat khusus yang tidak terjumpai dalam kehidupan sehari- hari, dan hanya ditemukan dalam konteks yang bersifat khusus, yaitu materinya ilmiah situasinya formal.
Kenyataan tersebut menimbulkan kesimpangsiuran di antara pelaku PBM bahasa Indonesia sendiri yang tampak pada rencana perkuliahannya. Ada yang merumuskan PBM bahasa Indonesia sebagai mata kuliah umum itu dalam rangka memberikan kompetensi yang berupa keterampilan berbahasa Indonesia secara urnum melalui penguasaan kaidah
bahasa. Ada pula yang mengembangkan perkuliahan melalui pengembangan keterampilan berbahasa Indonesia untuk berbagai keperluan melalui berlatih menggunakan bahasa Indonesia secara intensif.
PBM bahasa Indonesia sebagai mata kuliah umum universiter diarahkan pada pemilikan kompetensi menulis karya ilmiah. Jadi, tujuannya benar-benar spesifik. Untuk keperluan ini, tentunya mahasiswa dipersyaratkan memiliki kompetensi teknis mekanis, yaitu yang terkait dengan format dan tata tulis karya ilmiah, dan bahasa karya ilmiah; dan kompetensi nonteknis yang terkait dengan penguasaan substansi bidang keilmuannya.
Sehubungan dengan kondisi yang demikian itu, perlu dicari alternatif model perkuliahan Bahasa Indonesia yang menyenangkan dan memungkinkan mahasiswa memiliki minat, kemauan, dan keterampilan menulis karya ilmiah.
KONSEP TULISAN ILMIAH
Tulisan ilmiah adalah tulisan yang didasari oleh hasil pengamatan, peninjauan, atau penelitian dalam bidang tertentu, disusun menurut metode tertentu dengan sistematika penulisan yang bersantun bahasa dan isinya dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya (keilmiahannya). Dengan demikian, suatu tulisan disebut karya tulis ilmiah bila memenuhi persyaratan:
- isi kajjannya berada pada lingkup pengetahuan ilmiah,
- langkah pengerjaannya dijiwai atau menggunakan metode ilmiah,
- sosok tampilannya sesuai dan memenuhi syarat sebagai suatu sosok keilmuan.
Sesuai dengan persyaratan di atas, metode ilmiah merupakan dasar pijakan untuk penulisan ilmiah. Pada dasarnya metode ilmiah merupakan suatu cara bekerja atau prosedur untuk memperoleh kebenaran ilmiah (pengetahuan ilmiah) yang memiliki dua tuntutan sekaligus: rasional dan teruji. Pada hakikatnya ada empat komponen utama dalam metode ilmiah, yakni masalah, hipotesis, verifikasi, dan kesimpulan. Dengan demikian, dalam metode ilmiah digunakan alur berpikir deduktif dan induktif. Penalaran deduktif digunakan untuk menyusun kerangka pikir dalam memecahkan suatu masalah, yakni dengan mendasarkan diri pada teori-teori dan hasil kajian yang telah ada. Penalaran induktif digunakan ketika kita ingin menguji atau menemukan adanya kebenaran suatu pernyataan yang rasional dengan memanfaatkan fakta-fakta empiris atau kenyataan yang ada. Sebuah pernyataan dianggap benar jika didukung oleh fakta empiris.
Sesuai dengan uraian di atas, ciri-ciri tulisan ilmiah dapat disebutkan sebagai berikut :
- Logis, yakni segala informasi yang disajikan memiliki argumentasi yang dapat diterima dengan akal sehat.
- Sistematis, yakni segala yang dikemukakan disusun berdasarkan urutan yang berjenjang dan berkesinambungan.
- Objektif, yakni segala informasi yang dikemukakan itu menurut apa adanya dan tidak bersifat fiktif.
- Tuntas dan menyeluruh, yakni segi-segi masalah yang dikemukakan ditelaah secara lengkap.
- Seksama, yakni berusaha menghindarkan diri dari berbagai kesalahan.
- Jelas, yakni segala keterangan yang dikemukakan dapat mengungkapkan maksud secara jernih.
- Kebenarannya dapat teruji.
- Terbuka, maksudnya sesuatu yang dikemukakan itu dapat berubah seandainya muncul pendapat baru.
- Berlaku umum, yakni kesimpulannya berlaku bagi semua populasinya.
- Penyajiannya memperhatikan santun bahasa dan tata tulis yang sudah baku (Ekosusilo dan Triyanto, 1995).
Ada berbagai jenis tulisan ilmiah. Jenis-jenis tulisan ilmiah itu antara lain makalah, laporan, skripsi, tesis, dan disertasi. Semua jenis tulisan ilmiah tersebut sudah semestinya dikenal dan dikuasai oleh mahasiswa.
KARAKTERISTIK ASPEK TATA TULIS TULISAN ILMIAH
Secara singkat, karakteristik karya tulis ilmiah khususnya dalam aspek tata tulis adalah sebagai berikut.
(1) Judul, yang hendaknya singkat-padat, khusus artikel ilmiah biasanya berkisar antara 8
— 12 kata, mencerminkan isi, menarik, informatif, dan mengandung permasalahan yang diungkapkan.
(2) Abstrak, yang umumnya terdiri dari 100 — 150 kata, maksimal tiga paragraf, dan berisi tentang tujuan penulisan atau permasalahan, cara penelitian atau pembahasan, dan hasil penelitian atau pembahasan.
(3) Paragraf, yang mempunyai ciri satu kesatuan ide, kepaduan hubungan antarkalimat, dan kelengkapan pokok pikiran utama dan penjelas.
(4) Pengalimatan, yang hendaknya sederhana, lengkap, tetapi jelas, dan mengikuti struktur (S/P).
(5) Argumentasi Ilmiah, yang hendaknya ada dalam pembahasan, dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah, dan mengacu ke teori atau hasil-hasil penelitian terdahulu.
(6) Sintesis Kajian Pustaka, yang hendaknya bukan sekedar kompilasi teori, harus saling terkait satu dengan yang lain, dan mencerminkan kerangka pikir yang padu.
(7) Kutipan, dapat berupa kutipan langsung atau tidak langsung dengan penyebutan sumber referensinya secara jujur dan benar.
(8) Simpulan, berupa intisari pembahasan dan jawaban atas masalah yang diajukan.
(9) Saran, yang diajukan kepada siapa, dan disesuaikan dengan hasil atau isi tulisan.
(10) Daftar Pustaka, yang bervariasi tetapi pada umumnya ditulis dengan ketentuan nama penulis, tahun penerbitan, judul terbitan, kota penerbit, dan penerbit, serta disusun menurut abjad.
PEMBELAJARAN MENULIS KARYA ILMIAH
Ada berbagai pendekatan pembelajaran menulis. Pendekatanpendekatan tersebut antara lain :
(1) Language-Based Curriculum,
(2) Pattern-Model-Based Curriculum,
(3) Process-Based Curriculum, dan
(4) Combination Curriculum (Mustofa, 2004). Pendekatan pertama, Language-
Based Curriculum, menekankan pentingnya penguasaan tata bahasa agar dapat menulis dengan baik. Dengan kata lain, pendekatan ini beranggapan bahwa untuk belajar menulis ia harus menguasai terlebih dahulu tata bahasa.
Pendekatan kedua, Pattern-Model-Based Curriculum, menekankan bahwa dalam pembelajaran menulis lebih diutamakan pada model-model atau pola tulisan. Berbagai model atau pola tulisan tersebut harus dipelajari agar seseorang memiliki keterampilan menulis.
Pendekatan ketiga, Process-Based Curriculum, lebih menekankan pentingnya pembelajaran menulis melalui proses tanpa mengabaikan hasil. Pendekatan ini, yang muncul dan populer sejak tahun 1980-an, didasarkan atas hasil-hasil penelitian yang dilakukan oleh Graves (1983), Calkins (1983, 1986), dan Atwell (1987). Menurut Barrs (1983) pendekatan proses dalam menulis terutama bagi pemula sangat mudah diikuti. Pada umumnya pendekatan pembelajaran menulis berbasis proses itu menekankan bahwa dalam menulis itu melalui tahapan prapenulisan, penulisan, dan pasca penulisan. Tomkins (1994) menyebutkan adanya lima tahap dalam menulis, yakni :
(1) pramenulis
(2) menulis draf
(3) merevisi
(4) menyunting, dan
(5) mempublikasi.
Sementara itu, pendekatan keempat, Combination Curriculum, berusaha memadukan berbagai pendekatan yang telah ada. Menurut pendekatan ini, ada kalanya pembelajaran menulis lebih menekankan model atau tata bahasa, tetapi ada kalanya lebih diutamakan proses menulis.
METODE PENELITIAN
Subjek penelitian ini adalah sejumlah mahasiswa dari empat Program Studi di tiga fakultas di lingkungan Universitas Negeri Yogyakarta yang mengikuti perkuliahan Bahasa Indonesia pada semester gasal tahun 2004/2005. Mahasiswa keempat program studi tersebut terdiri atas mahasiswa angkatan 2004, dan 2003, dan 2002. Jumlah mahasiswa sebanyak 177 orang yang rinciannya dapat disajikan sebagai berikut. Mahasiswa Program Studi Manajemen, Fakultas Ilmu Sosial dan Ekonomi sebanyak 51 orang (20 orang mengulang). Mahasiswa Program Studi Pendidikan Matematika, Fakultas matematika dan Pengetahuan Alam sebanyak 39 orang. Mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni terdiri dari dua program studi, yaitu Program Studi Pendidikan Seni Musik sebanyak 38 orang (4 orang mengulang), dan Program Studi Pendidikan Bahasa Jawa sebanyak 49 orang.
PROSEDUR PENELITIAN
Penelitian tindakan kelas ini pada prinsipnya menggunakan model Kemmis dan McTaggart (1992) melalui empat tahap, yaitu perencanaan, implementasi, observasi dan pemantauan (monitoring), serta refleksi (cf. Madya, 1994; Tim Pelatih Penelitian Tindakan (Action Research) UNY (1999).
Tahap pertama, yakni perencanaan, tim peneliti bersama-sama dengan dosen pengampu mata kuliah Bahasa Indonesia melakukan identifikasi tentang permasalahan yang muncul berkaitan dengan keterampilan menulis karya ilmiah para mahasiswa melalui teknik diskusi,
pengamatan, dan wawancara. Selanjutnya, bersama kolabolator diupayakan untuk menetapkan dan mempersiapkan alternatif tindakan, dan alternatif tindakan yang dipilih adalah pengembangan silabus perkuliahan yang di dalamnya dipersiapkan tentang kompetensi yang diinginkan, materi pembelajaran, pendekatan, metode, dan teknik pembelajaran, media pembelajaran, serta evaluasi pembelajaran.
Tahap kedua, yakni implementasi tindakan, tim peneliti bersama kolabolator, berdasarkan hasil identifikasi pada tahap pertama, melakukan tindakan yang telah disepakati.
Tahap ketiga, yakni observasi dan pemantauan (monitoring), tim peneliti bersama kolabolator melakukan observasi, monitoring, evaluasi dan analisis terhadap pelaksanaan tindakan yang telah dilakukan pada tahap kedua. Kriteria keberhasilan tindakan adalah keterampilan menulis karya ilmiah mahasiswa yang cukup memadai yang ditandai oleh semakin membaiknya karya ilmiah mereka, di atas 80% berkategori baik.
Tahap keempat, yakni refleksi, tim peneliti bersama-sama dengan kolabolator melakukan analisis, sintesis, dan memaknai hasil tindakan pertama untuk kemudian disimpulkan apakah perlu merevisi gagasan umum atau mungkin memikirkan dan merencanakan kembali jenis tindakan berikutnya yang perlu diterapkan agar mahasiswa dapat memiliki penguasaan keterampilan menulis karya ilmiah yang memadai.
TEKNIK PENGUMPULAN DATA DAN ANALISIS DATA
Teknik pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah tes, observasi, dan catatan lapangan, serta penugasan. Tes dan penugasan digunakan untuk mengungkap tingkat penguasaan keterampilan menulis karya ilmiah, sedangkan observasi dan catatan lapangan digunakan untuk mengungkap secara deskriptif pelaksanaan tindakan di kelas.
Data dianalisis secara deskriptif kualitatif dan kuantitatif. Teknik kualitatif digunakan dalam rangka menggambarkan proses kegiatan tindakan, sedangkan teknik kuantitatif
digunakan untuk mendeskripsikan tingkat keterampilan menulis karya ilmiah setelah implementasi tindakan.
HASIL DAN PEMBAHASAN PELAKSANAAN PENELITIAN TINDAKAN
Penelitian ini melibatkan beberapa kolabolator, yakni beberapa orang dosen Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia yang mengajar mata kuliah Bahasa Indonesia. Selain itu, juga dilibatkan beberapa dosen lain dari Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FBS UNY sebagai teman sejawat yang memberikan masukan baik dalam bentuk diskusi maupun seminar. Adapun dosen pelaksana kegiatan interaksi belajar mengajar melibatkan empat orang dosen yang sekaligus sebagai peneliti dan kolaborator.
Tahap pertama, yang dilakukan dalam kegiatan penelitian ini, adalah mengungkap kebutuhan yang memang secara realistik diperlukan oleh mahasiswa terkait dengan kompetensi yang diharapkan dapat dimiliki oleh mahasiswa melalui perkuliahan tersebut. Untuk keperluan ini, pada pertemuan pertama, setelah diinformasikan kompetensi yang diharapkan dapat dicapai melalui perkuliahan bahasa Indonesia, yaitu mahasiswa mampu menulis karya ilmiah dalam bahasa Indonesia, dilakukan upaya penjaringan kebutuhan melalui angket. Bentuk angket terdiri atas bentuk, yaitu tertutup dan terbuka. Bagian angket tertutup terdiri atas 16 belas butir topik atau kegiatan yang oleh tim peneliti dipandang sebagai pendukung untuk mencapai kompetensi dalam penulisan karya ilmiah, dan bagian angket terbuka berisi kolom yang dapat diisi oleh mahasiswa dengan topik atau materi lain yang mereka perlukan (angket terlampir).
Berdasarkan angket tersebut ternyata dapat disajikan hasilnya sebagai berikut.
Pertama : tidak ada satu mahasiswa pun yang menuliskan kebutuhan 37 yang diperlukan pada kolom angket terbuka.
Kedua : dari 16 butir topik pada angket tertutup terdapat beberapa butir yang dipandang oleh beberapa mahasiswa (kurang dari empat mahasiswa) tidak diperlukan, dan ada beberapa pula yang menyatakan agak diperlukan. Meski demikan, pada umumnya atau sebagian besar menyatakan diperlukan atau sangat diperlukan.
Ketiga : karena angket kebutuhan diberikan pada minggu pert. •a, banyak mahasiswa yang belum mengikuti perkuiiahan.
Tahap kedua, secara terbuka dosen pengampu mata kuliah bahasa Indonesia raenyampaikan hasil angket kebutuhan mahasiswa, dan mendiskus’i- ya. Hasil diskusi ternyata menemukan kesepakatan bahwa semua topik atau kegiatan
dilaksanakan dal kegiatan belajar mengajar. Mahasiswa yang minggu sebelu ya tidak mengisi angket karena mereka belum hadir menyetujuinya, tidak ada yang meny. paikan komentar dan keberatan. Pada pertemuan ini dilakukan pula diskusi untuk menemukan kesepakatan dengan mahasiswa mengenai model pelaksanaan interaksi belajar mengajar dari teknik pembelajaran, s. pai dengan evaluasinya. Pada prinsipnya, model PBM disepakati selain tatap muka di kelas dengan berbagai model penyajian, mahasiswa dilayani secara tutorial di luar jam perkuliahan.
Tahap ketiga, melakukan kegiatan belajar mengajar. Dalam kegiatan belajar, dosen memberikan bahan ajar dan bahan digandakan sesuai dengan keperluan. Bahan ajar tersebut bervariasi sesuai dengan kesepakatan sebelumnya. Misalnya, bentuk uraian materi topik tertentu, seperti pengembangan paragraf, penulisan karya ilmiah (termasuk di dalamnya penulisan daftar pustaka, fo at karya ilmiah), atau bahan latihan seperti penerapan Ej.. Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (EYD). Model kegiatan belajar mengajar berupa diskusi, penugasan berupa praktik menulis, dan ceramah yang terkait dengan teori menulis.
Tahap keempat, melakukan evaluasi melalui tugas-tugas dan tes, baik tes tengah semester maupun tes akhir semester. Selama dosen melaksanakan tugas dalam rangka evaluasi ini dosen masih memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk berkonsultasi tutorial. Meski demikian, jarang sekali ada mahasiswa yang menggunakan kesempatan ini.
PELAKSANAAN EVALUASI DAN PEMANTAUAN
Evaluasi dan pemantauan terhadap pelaksanaan tindakan dilakukan oleh tim dan kolaborator. Pemantauan pelaksanaan tindakan dilakukan oleh tim atau kolaborator dengan mengobservasi kegiatan belajar mengajar. Untuk keperluan ini digunakan catatan lapangan. Selain itu, pemantauan dilakukan pula pada pelaksanaan mahasiswa menyusun tugas secara terstruktur.
Evaluasi dilakukan dalam bentuk penugasan dan tes. Penugasan pada prinsipnya berupa unjuk kemampuan (performance) mahasiswa untuk menunjukkan
keterampilannya menggunakan bahasa Indonesia untuk keperluan penulisan karya ilmiah. Misalnya, penugasan yang berupa praktik mengutip dari sumber pustaka, baik pengutipan secara langsung maupun tidak langsung; menulis daftar pustaka, praktik mengedit ejaan; praktik menulis proposal, dan sebagainya. Tugas-tugas tersebut sekaligus didokumentasikan untuk memperoleh data prestasi pencapaian hasil belajar mengajar. Adapun kriteria keberhasilan tindakan seperti yang telah disebutkan di bagian depan, yaitu mahasiswa memiliki keterampilan menulis karya ilmiah yang cukup memadai yang ditandai dengan skor/nilai tulisan karya ilmiahnya baik.
HASIL TINDAKAN
Hasil tindakan dari kegiatan penelitian dapat diungkapkan dari dokumen praktik atau penugasan, serta hasil ujian. Mahasiswa telah melakukan praktik sebagai pelaksanaan tugas yang diberikan oleh dosen meliputi praktik mengedit ejaan, menuliskan daftar pustaka, mengutip dengan menuliskan rujukannya, baik model penulisan kutipan secara langsung maupun tidak langsung, menuliskan sebagian proposal penelitian dari latar belakang masalah sampai dengan batasan istilah, serta ujian dalam bentuk take home.
Berdasarkan hasil kerja mahasiswa yang terdokumentasi tersebut secara umum dapat dinyatakan bahwa mahasiswa telah memiliki kemampuan atau kompetensi yang baik dalam menggunakan bahasa Indonesia untuk komunikasi ilmiah. Model perkuliahan yang dikembangkan ini adalah kegiatan tutorial individual sampai mahasiswa dapat menyelesaikan seluruh tugas, dan mahasiswa yang sampai batas waktu yang ditentukan dalam kegiatan penelitian ini belum menyelesaikan tugasnya ditinggalkan, dianggap tidak memenuhi kualifikasi dan dimasukkan sebagai sampel mati, tetapi tetap dilayani untuk kegiatan tutorialnya sampai yang bersangkutan mencapai batas minimum kompetensi yang ditetapkan. Dalam pelaksanaan perkuliahan ada mahasiswa yang tidak memenuhi kualifikasi, misalnya jumlah tugas tidak terpenuhi dan masih memerlukan bimbingan tutorial.
KETERBATASAN PENELITIAN
Pertama, kegiatan perkuliahan bahasa Indonesia sebagai mata kuliah umum yang berkode UNU belum dapat terlaksana seperti yang diharapkan, terutama terkendala oleh waktu. Kendala yang dimaksud, antara lain jadwal perkuliahan bahasa Indonesia baru bulan kedua (Oktober 2004) sampai pada pengampu, sehingga “hilang” beberapa minggu dan untuk mengganti mengalami kendala ruang dan waktu. Selain itu, perkuliahan minggu pertama tidak dapat berlangsung karena mahasiswa harus mengikuti pelatihan ITC, belum lagi terkurang liburan menjelang dan sesudah lebaran.
Kedua, tim mengalami kesulitan koordinasi pelaksanaan perkuliahan karena terkait dengan kendala waktu, dan jadwal. Selain itu, materi terutama terkait dengan contoh- contoh tidak mungkin sama, karena latar keilmuan mahasiswa yang memang bervariasi. Oleh karena itu, tim peneliti mengambil kesepakatan, yang penting.
KESIMPULAN
Kegiatan perkuliahan dengan menggali kebutuhan mahasiswa dan melalui kesepakatan dengan mahasiswa mengenai materi dan kegiatan belajar mengajar serta kegiatan evaluasinya, ternyata menghasilkan pencapaian belajar mengajar yang baik. Kegiatari belajar mengajar yang disepakati berupa diskusi, penugasan berupa praktik menulis, dan
ceramah yang terkait dengan teorl menulis yang dilengkapi dengan materi dalam bentuk yang bervariasi. Dengan model ini mahasiswa sejak awal perkuliahan
telah mengetahui kompetensi yang diharapkan dapat dimiliki atau dicapai melalui kegiatan perkuliahan bahasa Indonesia sehingga mereka menyadari benar hak, kewajiban, dan tanggung jawabnya.
Mahasiswa telah memiliki kompetensi menggunakan bahasa Indonesia untuk komunikasi ilmiah, terutama ilmiah tulis sesuai dengan target perkuliahan, yaitu mahasiswa memiliki keterampilan menulis karya ilmiah. Mahasiswa telah berpraktik mengedit ejaan sebuah teks ilmiah, mengutip langsung dan tidak langsung dari sumber teks ilmiah, menulis daftar pustaka, mengembangkan atau menulis paragraf, menulis sebagian proposal mengikuti format yang telah dipelajari, mengembangkan proposal sesuai format yang diikuti. Nilai akhir yang dicapai oleh mahasiswa termasuk tinggi, yang ditunjukkan nilai akhir yang berkategori baik mencapai 95,11 %.
DAFTAR PUSTAKA
Atwell, N. 1987. In the Middle• Writing, Reading, and Learning with Adolescents.
Portsmouth, NH: Heinemann.
Barrs, M. 1983. “The New Orthodoxy About Writing: Confusing Process and Pedagogy”, dalam Language Arts, 60, 7.
Ekosusilo, M, dan Triyanto, B. 1995. Pedoman Penulisan Karya Ilmiah. Semarang: Dahara Prize.
Calkins, L. M. 1983. Lesson from a Child• on the Teaching and Learning of Writing.
Portsmouth, NH: Heinemann.
Calkins, L. M. 1986. The Art of Teaching Writing. Portsmouth, NH: Heinemann. Graves, D. H. 1983. Writing• Teachers and Children at Work. Portsmouth, NH:
Heinemann,
Kemmis, S & McTaggart, R. 1992. The Action Research Planner. Victoria, Australia: Deaken University.
Madya, S. 1994. Panduan Penelitian Tindakan. Yogyakarta: Lembaga Penelitian IKIP Yogyakarta.
Mustofa, B. 2004. Academic Literacy Skills Development Workshop Series.
Makalah dalam TOT Penulisan Ilmiah yang diselenggarakan oleh Ford Foundation Jakarta 19 s.d. 31 Januari 2004.
Pranowo. 2005. “Kebutuhan Materi Kuliah Bahasa Indonesia Mahasiswa
Nonbahasa Indonesia” dalam Jurnal Kependidikan. Nomor I, Tahun XXXV, Mei 2005 hlm. 1–34. Yogyakarta: Lembaga Penelitian Universitas Negeri Yogyakarta.
Tim Pelatih Penelitian Tindakan (Action Research) UNY. (1999). Kumpulan Materi Penelitian Tindakan (Action Research): Yogyakarta: Lemlit UNY.Tomkins, G.
E. (1994). Teaching Writing: Balancing Process and Product. New York: Macmil